Fukuoka

Kategori │Curcol Arienaittsuu no!, Ariehen! Japan Pride



Hakata eki , 秋 28年11月27日

Alhamdulillah sudah satu tahun tinggal di Fukuoka Jepang
, namun belum sempat sharing seputar kehidupan sehari hari di Fukuoka

Kali ini meskipun sangat amat teramat telat untuk menceritakan awal datang di Fukuoka ,, sekarang mumpung ada waktu , dan agaknya sudah terbiasa dengan rutinitas kenshuusei yang padat , insya Allah akan mempost yang unik unik di Fukuoka dan sekitar pulau Kyuushu
dan inilah
sekilas tentang Fukuoka

kalian bisa liat dichannel Youtubeku



  •  

    olok kejo

    Kategori

    Olok kejo kata orang sunda temen saya si Adit , artinya kebanyakan nasi, ,boros jadi mubazir


  •  

    Hiroshima Youkoso

    Kategori │Minori研修生の日常Curcol Arienaittsuu no!, Ariehen!

    Alhamdulillah stelah transit Hongkong, Taiwan , pesawat chinaairlines kami mendarat dengan aman di Hiroshima , Selasa malam (2016/03/15 20:18:03)

    Perjalanan baru kami mulai




  •  

    Manusia

    Kategori │Yaruki やる気 MotivasiJapan Pride



    Manusia kelas Tingi adalah manusia bisa berbuat baik dengan kesadaran sendiri..
    yang berbuat karna meniru adalah manusia kelas tengah..
    yang berbuat karna diperintah adalah kelas bawah..
    dan yang diperintah tapi tidak melaksanakan adalah Sampah..

    dan mungkin aku
    sering menjadi sampah..*tear*



  •  

    Otsukaresama deshita Edan no kurasu

    Kategori │Minori研修生の日常Curcol Arienaittsuu no!, Ariehen!


    お疲れ様でした
    1か月ぐらい また 味座(アジザ )先生 は 僕たちに 日本語を教えてくれた
    エデャン クラス と 言う E グレード を よんでいた。
    超 楽しかったんです,
    いろいろなことがあって、秋 クラス の あゆみ から 千葉 の みのりまで 引越しして、 悲しくて、嬉しくことがある よね

    ほらぁ~ この二人 は ワンオクロク 大ファンス じゃん~





    新しいCouple



    Nemurineko criminal case



    Minna no Nihongo 1 第一顆 から第27顆 まで
    ふくしゅう して ゲームをして Lipsinc の うた をして、 ドラマの
    はっぴょうをして、

    ちょっと変だと思う、けど みなさんはいっしょに笑っていたんだ

    懐かしかったんです
    ほかのクラスに 会えますように, ,
    ありがとう ございました
    Aini, Anton, Angga, Anggi, Ahsan, Annisa, Basar, David, Dewi, Musbihin, Susi, Sri , Tomi


    僕たちは めちゃカッコイ キチガイ過ぎるんです



    (2016年/01月/30日 21:39:35)


  •  

    masalah ya masalah

    Kategori │Indonesia



    Setiap orang punya yang namanya masalah.
    Masalah mereka berbeda seberbeda hunian yang mereka diami, langit yang dipandang tetaplah sama sih.
    Meskipun masalah mereka sama pun yang bermasalah adalah orang yang berbeda, cara menyelesaikannya bisa serupa bisa juga berlawanan.
    .
    Semakin jauh kita menyusuri jalan hidup maka semakin rumit permasalahannya sekaligus juga sepele, imbang atau tidaknya lagi-lagi dikembalikan dari bagaimana kita menilainya.
    Kita seringkali dipermainkan oleh sudut pandang kita padahal kita yang lagi makai tuh point of view, apakah kita adakalanya kerasukan?
    Jangan bilang nenek moyang kadang-kadang makai tubuh kita, woy leluhur jangan ngeganggu....
    .
    Siapakah kita di masa lalu, siapakah juga tuh yang di masa depan?
    Yang manapun, itu adalah kita, seperti kita yang sekarang, yah seperti inilah adanya.
    Jika ada seseorang yang harus disalahkan atas segala kesalahpahaman, kekeliruan, maka orang itu adalah diri kita sendiri, kita harus bisa memilih yang mana kesalahan yang berasal dari kita sendiri dan yang mana kesalahan yang orang lain bikin sama kita disamping kesalahan yang kita buat sama orang lain, telitilah dalam hal introspeksi.
    Janganlah mempersulit orang lain yang meminta maaf sama kita, juga janganlah menyulitkan diri sendiri dengan gengsian meminta maaf sama orang lain kalo kitanya yang salah, kalau nggak maka anggap saja sebagai mengalah untuk menang.
    Jika sulit meminta maaf kepada orang lain yang mana kita punya salah terhadapnya maka itu berarti kita lebih sulit lagi untuk memaafkan diri sendiri ketika kita melakukan kesalahan secara privacy tanpa melibatkan siapapun.
    Memaafkan diri sendiri bukan berarti berkompromi terhadap kesalahan, terus melanjutkan kesalahan serupa sambil memaklumi bahwa yang namanya insyaf akan ada waktunya.
    Waktu bukanlah pelayan kita dan kita pun bukanlah pelayan sang waktu.
    .
    Hidup ini durasinya antara lama dan sebentar, setiap harinya ada begitu banyak manusia entah itu tua maupun yang muda-muda yang meninggalkan dunia ini dan ada begitu banyak anak manusia yang terlahir ke dunia ini.
    Lahir dalam berbagai cara, menjalani hidup dalam berbagai cara dan mati dalam berbagai cara.
    Salah satu karunia kita untuk menikmati hidup adalah meraup pengetahuan demi pengetahuan.
    Dimulai dari sesuatu yang kita ketahui sewaktu pertama kali menyadari yang namanya keberadaan hidup yang mana tentulah lupa, ya iyalah, kejadian waktu kecil saja sangatlah susah untuk di ingat.
    Kejadian-kejadian yang kita paling ingat ketika kecil barangkali adalah peristiwa yang menghibur hati kayak maen maenan disamping yang merobek kulit kayak jatuh pas belajar sepeda.
    Semakin tumbuh secara fisik maka belum tentulah tumbuh juga secara mental, kan banyak orang dewasa yang pola pikirnya setara anak-anak, padahal belum lanjut usia...
    Anak-anak yang pola pikirnya saingan sama orang dewasa juga banyak, faktor pendukungnya adalah keadaan yang mendesak mereka untuk menyikapi kehidupan seulet yang mereka sanggupi, faktor utamanya ya keinginan untuk meningkatkan kualitas diri sendiri.
    Keadaan ibarat alat bantu, bila penggunanya bagus maka baguslah bila buruk maka amburadul deh.
    Generasi tua bangka akan digantikan oleh generasi darah muda.
    Tidak semua tetua itu bijaksana sebagian besar ada yang yang brengsek.
    Tidak semua anak muda itu culas sebagian besar ada yang ksatria.
    Bagaimanapun hidup ini adalah perlombaan bebas, kita leluasa untuk bersiasat, memakai taktik apapun, licik terhadap siapapun, toh konsekwensinya kita tanggung sendiri seperti proses dan hasil yang kita tangani.
    Generasi tua akan tergantikan oleh yang muda secara sukarela atau malah yang tua yang merasa terancam oleh yang muda malah menyingkirkan halangan mereka, menjadi perintang, penghambat bagi generasi dibawah mereka.
    Bukankah lebih greget kalau generasi tua yang disingkirkan oleh generasi muda, waktu mereka sudah cukup jadi cukuplah mereka berleha-leha di kursi malas sambil menunggu matahari senja terbenam(lol)
    .
    .
    Tentu saja, tidak semua anak-anak muda yang pola pikirnya dewasa itu selalu stabil, orang dewasa juga sama, mutu pikiran itu bisa naik turun tergantung pemakainya, pikiran stabil nggak selalu stand by, itu harus dirawat terus biar nggak labil, kalau labil ya nikmatilah kelabilan itu untuk sementara, karena siapa tahu sehabis labil nemu pencerahan tertentu, siapa tahu, yep positif thinking lah..
    Meski tahun kemaren kita cerdas tidak mustahil tahun ini kita mendadak goblok.
    Well, orang yang dulunya periang bisa saja stress, otaknya miring gara-gara kena peristiwa buruk yang mengkacau balaukan batinnya sampai mentalnya anjlok.
    Tidak ada yang awet bagi kita, kita hanya bisa berusaha untuk melestarikan, merawat.
    Seperti budaya, kalau tidak dirawat, dilestarikan maka pasti akan musnah disuatu zaman, entah kapankah itu.
    Pikiran pun kalau tidak dilestarikan, dirawat, dilatih, maka pasti akan kusut, suram dan mudah galau lalu stress.
    Karena masalah, adakalanya kita berdalih kalau kita berbuat begini, bertindak begitu, lantaran karena masalah, penyebabnya ya si masalah deh, kita menciptakan alasan untuk pembenaran bagi diri sendiri dan penyangkalan terhadap yang lainnya.
    Tidak sedikit orang-orang yang memutuskan cara untuk menyelesaikan masalahnya dengan mengakhiri hidupnya sendiri, masalahnya kelar kalau hidupnya kelar, yang benar saja deh.
    Meski pun di wilayah lainnya ada sebagian orang yang mengakhiri nyawanya sebagai tindakan terhormat dalam versinya sendiri untuk menebus kesalahannya seperti korupsi dlsb, yang benar saja deh, kalau bersalah ya jalanilah hukuman.
    Well, ane tidak akan paham tindakan ksatria dalam sudut pandang pihak lainnya mengenai menebus kesalahan sendiri dengan suicide, bagaimanapun sudut pandang seseorang berdasarkan bagaimana pengetahuan yang ia tetapkan sebagai bahan utama dalam olah pikirnya.
    Bahan utama olah pikir untuk pengetahuan itu meliputi hukum agama/kepercayaan yang ia anut, hukum adat-istiadat yang ia miliki dan hukum negara yang ia tinggali, kemudian muncullah sumber-sumber lainnya sebagai bahan pertimbangan, atau malah mendewakan pola pikir sendiri sebagai idealisme dan sumber-sumber lainnya seperti keagamaan, kultur, negara dlsb sebagai bahan pertimbangan.
    .
    .
    Sementara ini, tidaklah sedikit anak-anak muda tanah air tercinta yang telah gugur secara harakiri, yang benar saja deh...
    Konon penyebabnya patah hati, gagal pendidikan dlsb...
    Ada juga orang dewasa-tua bangka yang harakiri pula, yang benar saja deh...
    Konon faktornya adalah soal ekonomi dlsb...
    Itu adalah pengkhianatan.
    Pengkhianatan terhadap keinginan kedua orang tua.
    Harapan orang tua pastinya ingin anak-anak mereka hidup sampai mereka mati dengan cara yang terbaik, lha ini malah suicide...
    Mungkin para leluhur di alam baka bakalan murka kayak gini, “woy anakcucucicit, neneqmoyang gue sama leluhur loe ini plus bokapnyokap loe juga nggak ada yang suicide-suicidean lha eloe malah modarin diri loe... dazar wong edan!!!”
    Pengkhianatan terhadap hubungan-hubungan yang telah ia rangkai, dalam hidup tiap orang tentu mengenal orang lain dan perkenalan itu membuahkan hasil.
    Kalau nggak temenan ya musuhan.
    Teman hari ini bisa jadi musuh besok, musuh kemarin bisa jadi teman hari ini, tapi yang lebih baik adalah menjaga tali pertemanan selemah tali rafia dan menjaga tali permusuhan sekuat tali tambang[eh]
    Manusia mencari teman untuk membentuk kelompok dalam hal untung-rugi, atau hubungan yang tulus dan berkembang menjadi persahabatan, atau modus dimana kita datang ketika butuh dan pergi ketika nyaman terus ngilang ketika dimintain tolong, seperti apapun motifnya terserah deh, benar salah kan bisa dikoreksi, itulah salah satu fungsinya dari hubungan sesama manusia.
    Jadi, ketika seseorang memutuskan hidupnya wassalam ditangannya sendiri berarti ia pun menyangkal keberadaan orang-orang yang ia kenali secara detail maupun sekilas dalam ruang waktu hidupnya.
    Kan bisa saja, ketika kita tertimpa yang namanya problem penggalau level $ maka entah siapakah
    dari kenalan yang kita kenal itu mungkin akan menjadi salah satu oknum eh orang yang turut serta, berperan penting dalam membantu kita menerobos masalah yang menggelapkan jalan pikiran kita.
    Pengkhianatan terhadap diri sendiri.
    Setiap orang pasti punya cita-cita.
    Pada waktu kecil sampai beranjak gede, cita-cita bisa berubah maupun tetap tergantung daya logika dan emosi yang dibawa masing-masing pemegang cita-cita.
    Semakin hari, minat seseorang makin terlihat, entah hal yang positif maupun negatif.
    Misalnya positif, ia berminat dengan hal-hal yang terlibat dengan orang banyak, ia jadi orang yang punya kecenderungan sosial dlsb, nih orang bakat jadi kepala suku,...
    Misalnya pun negatif, ia berminat dengan hal-hal yang hanya melibatkan dirinya sendiri, ia jadi orang yang antisosial, nih orang bakat jadi hikikomori.
    Jadi hikikomori itu ada baik buruknya, buruknya kalau itu merupakan pelarian dari ketidakberdayaan menangani pergaulan sosial.
    Jika punya kreatifitas tertentu mungkin ada nilai plusnya jadi hikikomori, entah kreatifitas itu ngehasilin duit atau cuma buat asyik-asyik aja yang mana hal itu lambat laun akan jadi salah satu faktor yang menjembataninya ke dunia luar dan meninggalkan gelapnya hutan rimba yang ia sebut tempat bertapa, tapi kalau nggak, maka mari berharap pada bintang jatuh, jatuhnya dikamar[lol]
    Tentu saja orang yang sosialis nggak selamanya bertahan dalam kesupelannya dan orang yang antisosial tidak selamanya bertahan dalam tempurung yang ia anggap sebagai zona aman.
    Orang yang antisosial pastinya menyadari hal yang ia terapkan adalah hal yang hanya akan membuatnya aman, jika ia bisa bersama orang-orang yang ia bisa nyaman dengan mereka dan mereka pun nyaman dengannya maka buat apa ia maenan dengan tempurung, seaman apapun sebuah tempurung rasa sepi itu tidaklah nyaman.
    Keadaan yang terjadi pada kita sekarang hanyalah situasi sementara, kelengahan bisa membuat kita kaget dan kegigihan semoga bisa membuat kita kalem terhadap apapun situasi yang sifatnya selalu berubah-ubah.
    Meski kita menanam kepercayaan pada diri kita sendiri bahwa kita tidak akan melakukan hal yang konyol semengerikan apapun keadaan hidup yang akan kita alami, tidak ada jaminan kita bisa menepati tekad yang kita peruntukkan sama diri sendiri, segalanya perlu di uji, adakalanya kita ditunjukkan suatu kejadian untuk membuktikan seberapa sih nilai tekad kita, apakah itu sesuatu yang berisi ataukah omong kosong saja?
    Apalagi kalau kita tidak merawat pola pikir kita secara langgeng maka ada kemungkinan disaat terjadinya peristiwa krisis yang luar binasa maka mindset kita malah makin super duper krisis lalu kita lupa segalanya akibat tumpukkan stress dan berpikir singkat dengan cara meracik obat nyamuk sebagai jamu buat nge skip kehidupan sambil berimajinasi terjun dari air terjun niagara.
    Itulah pengkhianatan terhadap diri sendiri, mengkhianati diri sendiri yang dulu pas pertama kali bisa berjalan dengan kedua kakinya setelah sekian lama merangkak maka entah seperti apa rasa gembiranya saat itu, diri yang lampau itu pun lalu bertekad untuk bisa berloncat, berlari dlsb..
    Mengkhianati diri sendiri yang dulu pas pertama kali bisa berbicara dengan cadel lalu lancar setelah sekian lama mengeluarkan bunyi oeoeoeoeoeoe,,,, lalu bertekad suatu hari untuk bisa berteriak dengan lantang buat demo-demo gitu XD, nyanyi sefals-falsnya, nyiulin cewek lewat dlsb..
    Jangan lupakan kalau kita punya yang namanya harapan ketika keputusasaan tengah membayangi.
    Intinya, bunuh diri itu dosa yang tak terampuni.
    Tidak mungkin diri sendiri ingin modar begitu saja, kan?
    .
    .
    .
    Yeah, bukan masalah yang menakutkan.
    Diri kita sendirilah yang menakutkan ketika pikiran kita mulai ngawur maka tindakan kita pun ikut-ikutan ngawur.
    Lebih baik melihat saat dimana kita tersenyum mengingat betapa sepelenya masalah yang sudah kita lalui, telah kita selesaikan.
    Daripada orang lain melihat kita dalam keadaan tergantung maupun bersimbah darah.
    Kita tidak mengetahui bahwa disamping kita mengalami peristiwa yang buruk juga didampingi oleh peristiwa yang luar biasa baiknya, mungkin disitulah ujiannya, apakah kita bisa mengatasi kejadian buruk yang disajikan untuk kita sebelum tiba hidangan utamanya.
    Kita hanya bisa mengukur nilai suatu peristiwa yang tengah berlangsung sesuai dengan sudut pandang kita yang tersedia saat itu, begitu kita bisa melewatinya dengan baik-baik maka mungkin saja kita bisa menemukan makna dibalik peristiwa tersebut, menangkap artinya, memetik hikmah.
    Kita hanya bisa menilai sesuatu sesuai kapasitas yang kita punya, adakalanya penilaian kita cocok dan adakalanya penilaian kita meleset, karena itulah kita memerlukan masukan dari orang lain, nasehat, interaksi.
    Bila pikiran kita terbebani masalah maka kita harus mencoba segala cara baik yang memungkinkan untuk meringankan beban tersebut, mencoba segala teori yang ada dipikiran, mempraktekkan seluruh ide yang terlintas dibenak, mengadaptasikan nasehat, masukan, saran orang lain dengan sukarela, kalau terpaksa ntar malah nyalahin yang ngasih saran, makanya tiap saran itu disaring, makan aja nggak semua jenis makanan langsung ditelan,,, kan punya toh yang namanya otak, punya otak tuh digunain ‪#‎PLAK‬
    .
    .
    Jika yang tersisa di alam pikir hanyalah kecenderungan negatif, kecondongan yang suram, maka janganlah sibuk berkecimpung dengan renungan kita sendiri, mungkin malah semakin bertambah galau.
    Perkuat interaksi dengan Ilahi melalui do’a disamping berinteraksi dengan orang lain dalam rangka mencari solusi, siapa tahu dapat uluran tangan disamping bantuan bacot.
    Kinerja meminta pertolongan Tuhan melalui do’a berbeda dengan kinerja meminta bantuan sesama manusia, apalagi minta tolong sama makhluk astral..
    Request terhadap sesama ciptaan bisa direject disamping di accept, bahkan bisa juga ada buntutnya dikemudian hari disamping adanya ketulusan.
    Request kepada Ilahi maka permintaan kita pasti dikabulkan dengan segera maupun sedikit lama, yang jelas bila sudah tiba saatnya maka dapat deh, tidak ada siapapun yang dapat menghambat kita dari memperoleh karunia Ilahi yang khusus untuk kita dan tidak ada siapapun yang dapat membantu kita untuk mengambil sesuatu yang tidak ditakdirkan Tuhan untuk kita punyai, atau permintaan ditolak karena itu bukan milik kita, kita tidak bisa mengelolanya, permintaan kita ditolak bisa digambarkan kalau yang kita pinta itu sebenarnya terdapat musibah, sesuatu yang tidak bisa tanggung, jadi kita terhindar dari hal yang lebih buruk dari kejadian buruk yang pernah maupun sedang kita alami.
    Dan bisa juga permintaan kita ditolak karena bagaimanapun juga terkabul ataunpun nggaknya do’a kita adalah haknya Tuhan.
    Kalau kita punya keslahan tertentu, asumsikan saja itu bisa jadi salah satu penghalang kita dalam meraih harapan kita.
    Terlebih berbuat kesalahan terhadap orang lain, bukankah harusnya meminta maaf pada yang bersangkutan biar tidak ada dendam di antara yang bermasalah.
    Kita tidak akan menjadi lemah dengan merendahkan hati terhadap orang lain dan kita tidak akan pernah menjadi yang terkuat sesombong apapun kita.
    Manusia terkuat tidak akan pernah ada, karena yang menyandang nama terkuat tidak akan merasakan kematian.
    Manusia pada dasarnya lemah, secara khusus pun lemah.
    Namun manusia di anugerahi kekuatan, biarpun sedikit, yang sedikit itulah yang kadang dilebih-lebihkan.
    Apakah kekuatan manusia itu?
    Otot?
    Otak?
    Jangan diskriminasi gitu deh.
    Otot dan otak dkk adalah bagian diri kita kok.
    Semua yang ada pada kita, semuanya adalah kekuatan.
    Seluruhnya merupakan karunia Ilahi.
    Saat kita super galau dengan indikasi menuju stress maka perhatikanlah diri kita dengan cara kita masing-masing.
    Masalah itu bukanlah bagian dari diri kita, masalah adalah materi ujian kita.
    Menguji seberapa bermutukah nilai perangkat diri kita secara fisik maupun mental.
    Kita harusnya lebih merhati-in diri sendiri.



  •  

    Anak anak

    Kategori │Indonesia


    Anak-anak tidak akan memahami orang tuanya.
    Salah satu syarat untuk mengerti adalah keinginan untuk ikut mengemban, menanggung, kesediaan untuk mengabdi, berpartisipasi sebagai seorang anak.
    Apakah sekarang sudah berperan sebagaimana seorang anak atau malah berkembang pesat seperti seorang boss yang suka nuntut yang terbaik dari bawahannya?
    Perhatikan saja sendiri, cerminan karakter tiap orang terpampang jelas dari kebiasaannya sehari-hari, watak itu sulit di ubah kecuali yang empunya watak mau merubah pembawaannya, sedikit demi sedikit dari karakter sok arogan padahal culun menjadi woles tapi tangguh.
    Selama seorang anak hanya bisanya menuntut, maka harus sejauh mana sih kemanjaan itu berlarut-larut?
    Sejak berharap untuk membahagiakan orang tua maka sejak itulah gerak-gerik seorang anak harus puluhan kali lebih tangkas dari sebelumnya, waktu ini sedemikian singkat dan setiap orang didunia kelihatannya bergegas-gegas seolah-olah mereka akan kehilangan kesempatan, seolah dihadapan tiap orang ada hal yang paling mereka impikan akan direnggut oleh tangan yang lain bilamana tangan mereka tidak cekatan.
    Orang tua tidak selalu bijaksana tapi sedangkal-dangkalnya mereka pada satu-dua kejadian, kehandalan mereka dalam mengatasi masalah terbukti ampuh, waktu yang sudah mereka ikat sebagai pengalaman adalah senjata ampuh yang belum dipahami oleh anak-anak.
    Anak-anak takut mengalami hal-hal baru dan belum menganggap pengalaman sebagai guru terbaik, mereka dibilang dewasa kalau sudah berani menginjakkan kaki di zona yang belum nyaman dan berusaha menjinakkannya menjadi zona jajahan(lol) dan jadilah itu sebagai pengalaman yang berguna untuk andalan melawan situasi apa saja.
    Tentu saja, tidak harus sembarangan melangkahkan kaki, salah pijakan resikonya berbahaya, langkah yang biasa-biasa saja pun ada-ada saja resikonya, karena itulah adanya arahan dari orang tua, petuah mereka mungkin kuno tapi masa ampuhnya tidak akan kadaluarsa.


  •  

    Japanese Pride

    Kategori │Japan Pride

    Mari kita cerita sedikit tentang
    異文化(ibunka;a different culture)
    考え方(kangaekata;pola pikir)
    org jpg...,kenapa jepang itu maju^^
    Org Jepang itu memiliki pride (harga diri) yg tinggi dalam bekerja..,dalam pergaulan sehari2..,dan org jepang juga memiliki pride (harga diri) yg tinggi
    saat melakukan kesalahan...
    klo di zaman edo
    切腹(seppuku;membunuh diri dgn katana) adalah hal yg wajar jika melakukan "kesalahan" yg fatal...baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan...demi pride (harga diri) dan menebus kesalahannya..politikus2 di jepang..,mengundurkan diri juga hal yg biasa saat melakukan "kesalahan" yg besar dan fatal demi pride (harga diri) dan menebus kesalah2an nya..

    bagi org jepang itu ...
    あやまらない事が(ayamaranai koto ga)
    プライドじゃない。(puraido ja nai)
    頭を下げた後に(atama sageta ato ni)
    残るものがプライドだ。(nokoru mono ga puraido da)


    "Tdk mengakui kesalahan itu (gak mau minta maaf) bukan lah PRIDE (harga diri),
    setelah meminta maaf (membungkukkan diri) ,yg
    tersisa itulah PRIDE (harga diri)
    "あ、すみません!(a,sumimasen!)
    Memohon maaf dulu setelah pertengkaran bukan karena mereka salah tapi karena mereka
    menghargai orang di sekeliling mereka...
    yg kuharapkan dari kalian...
    謝らなければならない時は、
    (ayamaranakerebanaranai toki wa)
    ちゃんと謝らなきゃ。
    (chanto ayamaranakya)
    大切なのは、
    (taisetsu na no wa)
    過ちをおかすことじゃない。
    (ayamachi wo okasu koto ja nai)
    その後、自分がどう反省するかなの。
    (sono ato,jibun ga dou hansei suru ka na no)
    "Disaat kita harus meminta maaf,minta maaf lah dgn benar.yg paling penting itu...bukan kesalahan yg kita telah lakukan,tapi..,
    setelah itu bagaimana kita harus menebus kesalahan tersebut (instropeksi diri)"
    itulah paling penting !

    Pesan dari Sapri Takahashi sensei, , ,




  •  

    本当に恋するよね~

    Kategori │Curcol Arienaittsuu no!, Ariehen!



    愛してる人の時に 自分は 本当に 自分じゃなくてみたい の か な

    Saat mencintai seseorang, diri kita bukanlah benar benar diri kita yang sebenarnya yah ?
    Hmmm





  •  

    日本語で何を話したいのですか

    Kategori



    日本語で何を話したいのですか?

    "Apa yang ingin kamu ungkapkan dalam bahasa Jepang?"
    Pertanyaan ini kelihatannya enteng dan mudah dijawab,namun kenyataannya tidak demikian.
    Saat kita mempelajari sesuatu terutama bahasa,tentu kita punya motivasi atau alasan
    mengapa kita mempelajari hal tersebut.
    Ingin kelihatan keren
    Ingin bisa berkomunikasi dengan orang asing
    Suka bahasa asing dan ingin mempelajari budaya asing
    Mungkin itu contoh beberapa alasan klasik mengapa kita mempelajari suatu bahasa, terutama bahasa asing
    (dalam konteks blog ini berarti bahasa Jepang).
    Lalu mengapa timbul pertanyaan "Apa yang ingin kamu ungkapkan dalam bahasa Jepang?"
    Apa sih maksudnya?
    Maksudnya begini,
    dalam mempelajari sesuatu, kita harus punya target atau tujuan yang ingin dicapai.
    Saya harus bisa menghapal 2000 kanji
    Saya harus lulus N1
    Apakah target yang seperti itu?
    Betul, itu juga target.
    Tapi apakah cuma sesimpel itu?
    Apa gunanya kita hapal 2000 kanji, tapi tidak bisa bercakap-cakap dalam bahasa Jepang?
    Apa gunanya kita lulus N1 tapi kemampuan aktualnya cuma sebatas N5?
    Nah, bagaimana kalau kita coba ubah pola pikir kita,
    Coba kita sederhanakan targetnya, misalnya
    "saya ingin bercerita tentang doraemon dalam bahasa Jepang"


    "saya ingin menceritakan tentang diri saya sendiri dengan bahasa Jepang"
    "saya ingin menyatakan perasaan saya kepada seseorang tapi pakai bahasa Jepang"
    Memang kelihatannya konyol atau terlalu simpel,
    tetapi target di atas orientasinya adalah praktek,
    artinya kita punya tujuan untuk apa kita menggunakan bahasa Jepang kita.
    Namun, jangan disamakan dengan orang-orang yang menggunakan bahasa Jepang hanya untuk gaya-gayaan.
    Tidak jarang banyak orang yang kemampuan bahasa Jepangnya tinggi namun cuma sebatas
    digunakan untuk diri sendiri, atau tidak dimaksimalkan potensinya.
    Percuma menghapal kosakata sebanyak apapun, belajar pola kalimat sebanyak apapun, sekompleks apapun,
    kalau ujung-ujungnya cuma untuk DIHAPAL, tidak DIGUNAKAN.
    Bahasa itu bukan ilmu eksak, tapi keterampilan. sering diasah, semakin sering dipraktekkan, maka kemampuan kita akan semakin berkembang.
    Kita yang tadinya tidak tahu dimana letak kesalahan kita saat bercakap-cakap dalam bahasa Jepang,
    atau bagaimana mengungkapkan sesuatu dalam bahasa Jepang, nantinya akan paham bagian mana saja
    yang semestinya kita perbaiki.



  •